Dekonstruksi Paradigma Kaderisasi Transformatif Dalam Upaya Reaktualisasi Peran Ipnu Sebagai Agen Kritis Sosial
Dibuat pada: 07 Jan 2026
Bagikan Artikel:
“Paradigma kaderisasi yang dikembangkan oleh IPNU adalah paradigma transformatif, yakni mengupayakan peningkatan profesionalisme dan kapasitas kader di satu sisi, dan pengembangan daya kritis dan militansi kader di sisi yang lain”, yang termaktub pada risalah hasil keputusan Konbes II & Rapimnas Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama pada tahun 2024 lalu. Tentu, bukan tanpa dasar bahwa ‘kacamata perubahan’ itu harus melekat pada setiap insan baik pengurus maupun kader IPNU itu sendiri, mengingat bahwa organisasi badan otonom daripada Nahdlatul Ulama ini memiliki sifat keterpelajaran, kekaderan, kemasyarakatan, kebangsaaan dan keagamaan. Sehingga, pada proses perjalanan nya tidak terlepas dari fungsi sebagai wadah kaderisasi awal di lingkungan NU sebagai alat perjuangan menanam dan menegakkan nilai-nilai Ahlussunah wal Jama’ah An-Nahdliyah kepada generasi muda khususnya para pelajar. Kita sudah ketahui bersama bahwa dalam pelaksanaan nya, idea/gagasan yang hendak dicapai secara realitas yang ada sering mengalami hambatan/tantangan oleh karena gap yang sering terjadi. Oleh karena itu, seyogyanya seorang kader yang sudah terdidik dan mendidik tentulah mesti menjadikan ini sebagai irama pada setiap pribadi untuk terus menjadi motor penggerak.
Seperti yang sudah dikemukakan sebelumnya, Idea ini adalah cetak biru bagi arah, evaluasi maupun inovasi kita dalam menjalankan tugas-tugas keorganisasian. Inilah denyut nadi kita yang mesti diresapi baik fikiran maupun gerakan dalam tiap-tiap proses kaderisasi di tubuh organisasi. Sehingga, sudah barang tentu kita perlu menggali dan meresapi nya serta mengkorelasikan dengan perkembangan begitu cepat yang terjadi secara dinamis sebagai ikhtiar menegakkan panji-panji Ikatan. Pertama-tama kepada rekan-rekan, bersama kita jabarkan tafsir makna yang ada. Saya hendak potong bagian-bagian yang ada menjadi 3 verbal yaitu paradigma, kaderisasi dan transfomartif. Ihwal, paradigma secara harfiah adalah kerangka berpikir atau bisa dikatakan sebagai standar cara pandang seseorang dalam melihat sesuatu yang ia maknai dan yakini. Selanjutnya Kaderisasi yang acapkali disalahartikan hanya sekedar “penerimaan anggota baru” atau “proses memotivasi” semata melainkan ia adalah ruh (transmisi nyawa) yang diwarisi kepada generasi berikut, ia juga mengubah objek menjadi subjek dalam ikatan, ia pula adalah proses menyiapkan masa depan. Menukil dari buku Prisma Pemikiran Pelajar bahwa “Kaderisasi yakni mempersiapkan, menebar dan berkembang dengan lahir-batin. Kita terdidik dan mendidik, kita terlatih dan melatih. Semua itu berasaskan baik dan benar dengan semangat kewelas-asihan”. Terakhir, transformatif adalah perubahan baik bentuk/sifat/keadaan yang bersifat mendalam. Mengapa mesti mendalam, sebab kalau sekedar perubahan tentu secara alamiah sekalipun perubahan bisa terjadi. Tapi secara mendalam inilah yang kita perlu maknai melampaui batas, memperbaiki sistem yang ada, menyesuaikan perkembangan zaman tentu supaya organisasi yang kita cintai ini tetap eksis dan relevan dengan keadaan zaman, tidak digiling atau digilas habis. Bermetamorfosa dengan kondisi yang ada. Alhasil semangat paradigma kaderisasi yang transformatif hendak kita capai ini sejalan dengan kaidah Al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah.
Kemudian, seperti yang sudah dibahas sebelumnya mengenai benturan idea dan realitas. Kita harus juga mengkaji dan evaluasi setiap proses kaderisasi yang sudah kita jalani pada berbagai tingkatan IPNU sebagai instrumen untuk menemukan formula terbaiknya dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Langkah ini perlu dimulai dari serempak kita bangun kesadaran akan suatu keniscayaan bahwa perubahan besar dimulai dari pikiran yang kuat. Memperbaiki pola pikir sebelum kita menggerakan roda organisasi itu tidak kalah penting ibarat kita sudah memenangi setengah pertarungan sebelum ke gelanggang pertempuran. Sejarah selalu mencatat bahwa dalam biografi para tokoh-tokoh besar Indonesia maupun dunia yang membawa dampak perubahan pada skala besar bagi bangsa nya selalu memiliki corak yang sama yaitu antusiasme yang menggebu-gebu. Mengawali dengan kesadaran kolektif ini perlahan tapi pasti merubah wajah organisasi IPNU dari pola maintenance (pemeliharaan tradisi) menjadi transformatif (penggerak perubahan). Perlu digaris bawahi juga makna beralih ke perubahan ini tidak dipandang sebagai meninggalkan jejak keluhuran organisasi kita serupa menanggalkan identitas sebagai ‘santri’ melainkan sebagai langkah memberi kekuatan baru pada nilai-nilai yang lama agar relevan dengan situasi modern. Selain itu, kita harus berani otokritik pada setiap kebijakan atau program kaderisasi yang sudah kita jalankan. Buang jauh-jauh satu paham gengsi yang acapkali terjadi, kekhawatiran bahwa kegiatan kaderisasi yang memiliki kuantitas peserta sedikit akan menjadi catatan atau mencoreng di muka marwah pengurus organisasi-nya. Kita perlu tekankan, memang kuantitas itu perlu dalam agenda kaderisasi karena bisa menjadi tolak ukur sejauh mana daya dan upaya yang sudah dilakukan oleh suatu kepengurusan. Tetapi itu bukan indikator utama keberhasilan suatu kaderisasi. Kita juga harus peka dan resapi sudah sejauh mana perubahan kualitas kesadaran kader, sejauh mana nalar kritis dalam upaya pemecahan masalah sosialnya, sejauh mana IPNU ini sudah membentuk kepribadian nya.
IPNU yang memiliki tiga tingkatan kaderisasi wajib yaitu Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), Latihan Kader Muda (Lakmud) dan Latihan Kader Utama (Lakut). Tiga tingkatan ini adalah step by step secara formal yang harus dijalani sebagai seorang kader yang siap dan teguh dalam menempuh tujuan dan fungsi organisasi kita ini. Bila diperlukan membentuk sistematis kaderisasi yang menciptakan kader unggul, pada tingkatan tertentu di IPNU membentuk seperangkat aturan atau pedoman yang dikhususkan pada kaderisasi sehingga menjadi satu landasan yang de jure mengikat dan betul-betul refocusing pada perkembangan setiap insan yang dididik. Kita juga perlu memantapkan dan memantau bahwa setiap proses kaderisasi formil yang terjadi harus sesuai dengan kaidah yang ada. Mestilah kita perbanyak instruktur pada tiap tingkatan yang dirasa membekali para generasi penerus kita dengan satu kurikulum yang terpadu. Kita harus menjamin bahwa kurikulum pendidikan yang diajar pada agenda kaderisasi tersebut itu sesuai dan output yang diharapkan. Terlepas penafsiran akan intisari tiap materi pada individu berbeda-beda tentulah lumrah dan menunjukkan sisi menarik dari khazanah intelektual. Ini bukan dimaknai sebagai pedagogi penjinakan akan suatu paham melainkan bentuk komitmen bahwa proses pewarisan (kaderisasi) yang terjadi sesuai dengan kaidah yang berlaku dan diharapkan walau dalam pelaksanaan nya ada pola penyesuaian akan kebutuhan lokal dan kondisi rasional di suatu wilayah tentu bisa ditoleransikan selama tidak bertentangan dengan asas organisasi maupun pedoman kaderisasi yang ada.
Pendekatan kaderisasi yang kita jalani juga harus menjadi ruang kritis bagi setiap individu-individu yang ada dan tidak kaku, tidak membatasi serta jua kita tidak menutup ruang untuk dikritik. Sehingga lingkungan yang dinamis dan inklusi akan terjadi. Sebab, kita sedang membentuk pemimpin baru yang tangguh bukan sekedar sekelompok ‘yes man’ tapi tidak memahami arah dan tujuan yang dimaksud. Mengapa daya kritis para setiap kader perlu dibentuk? Sebab, ia adalah indikator dalam memahami dan mempelajari suatu hal. Tanpa daya kritis, Idea sebagai nyawa hanya akan menjadi dogma mati.Kita sedang transisi mencipta kader IPNU yang bukan hanya “apa yang harus dilakukan” tapi juga “bagaimana melakukannya”. Daya kritis ini adalah modal besar bagi setiap kader untuk memahami gejala sekitar sehingga tumbuh kepekaan dan kepedulian sosialnya. Selain itu dapat memahami kekuatan dan kelemahan dirinya, peluang dan kekhawatiran nya sehingga setiap insan kader terus meng-upgrade dan update pengetahuan, penalaran dan pengalaman nya dalam situasi dan perkembangan apapun, tentu ini adalah kekuatan yang penting bila dipergunakan untuk kemaslahatan organisasi. Maka kita yakin bahwa IPNU akan dapat terus beradaptasi dan diperkuat ketahanan nya dalam menempuh tujuannya pada era disrupsi ini. Selain peningkatan daya kritis, kita perlu mempersenjatai para kader/anggota dengan kemampuan analisis sosial (ansos), pembentukan mentalitas problem solver, dan memperkaya perbendaharaan pengetahuan dengan literasi digital. Kalau perlu diproyeksikan kaderisasi berbasis isu, dimana setiap anggota/kader yang sudah menjalani kaderisasi diberikan tugas proyek sosial nyata sehingga tidak semata-mata secara teoritis tapi praktik pun sudah digeluti dan kepekaan sosial semakin tumbuh pada setiap insan. Pendekatan ini perlu kita bangun agar tidak hanya menyentuh kalangan elitis secara kelembagaan tapi menjangkau pelajar di sekolah-sekolah umum maupun kelompok marginal. Maka yakinlah bahwa kaderisasi transformatif yang hendak kita jalankan ini adalah proses memanusiakan pelajar untuk menjadi agen sejarah yang siap membawa perubahan positif, bukan sekedar objek struktural organisasi.
Rekan-rekan sekalian menakar keberhasilan kaderisasi bukan sekedar pada kemegahan acara seremoni yang diselenggarakan, atau hanya sekedar menghasilkan partisipan anggota/kader pada tiap kegiatan tetapi masih belum memahami esensi ikatan kita, melainkan keberhasilan itu bertolak ukur pada seberapa banyak kader/anggota IPNU yang memiliki semangat keberanian dalam menyuarakan kebenaran dan membela hak-hak pelajar. Sebanyak juga ia mampu membawa perubahan pada sekitar. Sebanyak ia mampu menjadi insan yang berkualitas, berdaya saing dan profesional. Sebanyak ia menjadi berkepribadian yang toleran, adil dan seimbang. Sebanyak pula ia dekat dan peduli terhadap sosial sekitar. Menukil dari petuah pendiri IPNU yaitu KH. Tolchah Mansoer “Cita-cita IPNU adalah membentuk manusia berilmu yang dekat dengan masyarakat, bukan manusia calon kasta elit dalam masyarakat”. Demikian tulisan ini saya sampaikan, semoga ini menjadi pengingat bagi saya, kalian dan kita semua yang tergabung maupun yang pernah menjadi pengurus bahwa semangat juang yang lampau kita lalui dalam ikatan, yang mengajari kita banyak hal dan membentuk kepribadian kita yang lebih unggul sekarang ini tak lepas dari pengaruh proses yang kita jalani selama berkhidmat di IPNU. Semangat itu tak lekang zaman atau dimakan waktu, sehingga api semangat warisan para pendiri, para pendekar dari IPNU yang sudah mendahului kita perlu diwarisi (inheritance) menjadi konektivitas gagasan kolektivitas gerakan bagi kita dalam membawa perubahan bagi sekitar sebagai suatu ikhtiar merawat jagat dan membangun peradaban. Salam belajar, berjuang dan bertakwa.
Penulis: Madi Ramadhan
Kembali ke daftar artikel